Dasar-Dasar Filsafat Manusia
Psikoanalisa
Marx
melontarkan ide bahwa manusia adalah Quo manusia entitas yang dapat
dikenali dan diketahui, bahwa manusia dapat didefinisikan sebagai manusia bukan
hanya secara biologis, anatomis, dan fisik tetapi juga secara psikologis. Ada
dua hasrat dalam diri manusia menurut Marx yakni dorongan konstan atau tetap
seperti lapar, nafsu seksual yang merupakan bagian integral dalam watak
manusia, dan dorongan yang relatif yang merupakan bagian integral dalam watak
manusia tetapi berasal dari struktur sosial. Manusia benar-benar berubah
sepanjang sejarah, mengembangkan dirinya, dia adalah produk sejarah. Sejarah
adalah sejarah perwujudan diri manusia. keseluruhan dari apa yang disebut
sejarah tidak lain adalah penciptaan manusia oleh tenaga buruh, dan terciptanya
alam bagi manusia. oleh karenanya manusia memiliki bukti yang tidak dapat
disangkal atau penciptaan dirinya atas asal-usulnya.
Manusia akan
hidup hanya jika ia produktif, menguasai dirinya dengan tindakan untuk mengkspresikan
kekuasaan manusiawinya yang khusus. Ekspresi diri manusia ini teraktualisasi
dalam kerja. Yang menjadi titik awal bagi analisis Marx ialah teori
ekonomi klasik yaitu teori nilai kerja. Dalam mengekspresikan dirinya
dibutuhkan kemerdekan dan kebebasan. Kemerdekaan dan kebebasan baginya
didasarkan pada perilaku menciptakan diri. Seorang manusia tidak akan merdeka
jika ia tidak menjadi majikan bagi dirinya sendiri, dan dia hanya dapat menjadi
majikan bagi dirinya sendiri ketika meminjamkan eksistensinya untuk dirinya
sendiri.
Buruh adalah
sebuah proses dimana manusia dan alam berpartisipasi dan dimana manusia
dengan kehendak sendiri memulai, mengatur dan mengendalikan hubungan material
antara dirinya dengan alam. Manusia mempertentangkan dirinya dengan alam
sebagai salah satu kekuatannya sendiri yang menggerakkan tangan dan kaki,
kepala dan tangan, kekuatan alam dari tubuhnya dalam rangka mengakprosi
produksi alam dalam bentuk yang sesuai dengan keinginannya sendiri.
Disisi lain, Fakta –fakta psikologis yang digunakan Freud
untuk menyimpulkan prinsip semacam itu berasal dari pengalamannya dengan
pasien-pasien neurotis maupun dari hidup psikis yang normal. Tentu saja,
beberapa pengulangan dapat dimengerti berdasarkan prinsip kesenangan Freud
berpendapat bahwa keterangan psikologis tadi dapat dilengkapi lagi dengan suatu
pandangan berdasarkan biologi. Pada semua mahkluk hidup kita melihat
kecenderungan untuk kembali ke suatu keadaan lebih dahulu, yaitu ke suatu
keadaan anorganis. Dengan kata lain, kehidupan cenderung kembali ke kematian.
Jadi keharusan untuk mengulangi adalah prinsip psikologis yang berakar kuat
dalam biologi. Refleksi tentang keharusan untuk mengulangi membawa Freud ke
teorinya tentang naluri-naluri kematian dan naluri-naluri kehidupan. Baginya
sudah jelas bahwa libIdo tidakdapat
dimengerti sebagai terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri. Tendensi
penghancuran dan agresi tidak mungkin berasal dari libIdo. Dalam perkembangan kepribadiannya, Freud berlandaskan pada dua
premis. Pertama adalah pendekatan genetik yang menekankan pada masa kanak-kanak
yang dianggapnya memegang peranan penting dalam pembentukan pribadi individu,
dari premis inilah Freud menyakini bahwa usia balita merupakan masa rawan yang
akan menentukan siapa kelak pribadi seseorang itu. Premis yang kedua adalah
bahwa libIdo atau energi seksual
telah hadir ketika bayi lahir dan selanjutnya.
Kita harus menerima dua macam naluri: disatu pihak
naluri-naluri kehidupan atau dengan nama lain libIdo atau eros. Dan di pihak lain naluri-naluri kematian atau dengan
nama lain Thanatos. Naluri kehidupan kecondongan untuk mempertahankan Ego (the
conservation of the individual) maupun kecondongan untuk melangsingkan
jenis (the conservation of the species),
baik libIdo narsistis maupun libIdo berobjek. Tujuan naluri-naluri kehidupan
adalah pengikatan (binding), artinya
mengadakan kesatuan yang semakin erat dan karena itu semakin mantab.
Naluri kematian bertujuan untuk menghancurkan dan menceraikan
apa yang sudah bersatu, karena tujuan terakhir setiap mahkluk hidup ialah
kembali ke keadaan anorganis. Karena itu dapat
dikatakan bahwa naluri-naluri kehidupan maupun naluri-naluri kematian
bersifat “konservatif”, dalam arti bahwa keduanya berusaha untuk mempertahankan
suatu keadaan yang lebih dahulu. Naluri-naluri kehidupan mempertahankan kehidupan
yang sudah ada, sedangkan naluri-naluri kematian berusaha mempertahankan
keadaan anorganis. Menurut pendapat Freud, dua jenis naluri ini sesuai dengan
dua proses pada taraf biologis yang berlangsung dalam setiap organisme, yaitu
pembentukan dan penghancuran (construction
and destruction). Misalnya, anabolisme dan katabolisme dalam sel-sel setiap
organisme.
Menurut Freud (2006), perilaku manusia itu ditentukan
kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan
naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya.
Pandangan ini menunjukan bahwa tentang aliran teori Freud mengenai sifat
manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey
yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara
sadar dan tidaksadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud
luluh. Lebih jauh lagi Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalalh
ditentukan, tetapi tidaklinier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku
seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibanyangkan pada orang tersebut.
Disini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi
manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund
Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan
bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah.
Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Freud,
prinsip-prinsip psikoanalisa tentang hakikat manusia dIdasarkan pada asumsi-asumsi:
a.
Pengalaman masa kanak-kanak mempengaruhi perilaku di masa dewasa
b.
Proses mental yang tidakdisadari mengintegrasi perilaku-perilaku
c.
Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan mengembangkan diri melalui
dorongan libIdo dan agresivitas sejak
lahir
d.
Secara umum perilaku manusia bertujuan untuk meredakan ketegangan,
menolak kesakitan, dan mencari kenikmatan
e.
Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan seksual mengarah pada perilaku
neurosis
f.
Apa yang terjadi pada seseorang saat ini dihubungkan pada sebab-sebab di
masa lampaunya dan memotivasi untuk mencapai tujuan-tujuan di masa mendatang
g.
Latihan pengalaman di masa kanak-kanak akan berpengaruh penting pada
perilaku pada masa dewasa dan diulangi dalam taransferasi selama proses terapi.
Dalam buku Ego
dan Id (1923) untuk pertama kalinya
Freud melukiskan suatu teori baru tentang susunan hidup psikis. Seperti sudah
diketahui, dalam susunan pertama ia membedakan dua sistem: sistem
sadar-prasadar, disamping sistem tak sadar. Yang tak sadar itu disamakan dengan
yang depresi, sedangkan yang merepresi adalah Ego atau sistem sadar-prasadar. Lama kelamaan teori pertama itu
bagi Freud tidakmemadai lagi, terutama karena penelitian lebih lanjut sudah
menyatakan kepadanya bahwa rangka proses represi apa yang merepresi bersifat
tak sadar pula.
Dalam buku yang disebut tadi Freud membedakan tiga
sistem dalam hidup psikis : Id, Ego, dan Superego. Dalam peristilahan
psikoanalisis, tiga faktor ini dikenal juga sebagai instansi yang menandai hidup
psikis. Marilah kita memandang ketiga instansi ini lebih dekat. Id adalah lapisan psikis yang paling
mendasar dan merupakan kawasan dimana Eros dan Thanatos berkuasa. Disitu
terdapat naluri bawaan (seksual dan agresif) dan keinginan yang direpresi. Hidup
psikis janin sebelum lahir dan bayi yang baru lahir terdiri dari Id saja dan Id itu menjadi bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih
lanjut. Id sekali-kali tidakterpengaruh
oleh kontrol pihak Ego dan prinsip
realitas. Disitu prinsip kesenangan masih maha kuasa. Dalam Id tidakdikenal urutan menurut waktu;
bahkan Id sama sekali tidak mengenal
waktu (timeless). Hukum-hukum logika
(khususnya prinsip kontradiksi) tidakberlaku bagi Id, tetapi sudah ada struktur tertentu, berkat pertentangan antara
dua macam naluri, naluri-naluri kehidupan dan naluri-naluri kematian.
Menurut Freud Ego
terbentuk dengan diferensiasi dari Id
karena kontaknya dengan dunia luar, khususnya orang disekitar bayi kecil
seperti orangtua, pengasuh, dan kakak adik. Aktifitasnya bersifat sadar, prasadar
maupun tak sadar. Untuk sebagian besar Ego
bersifat sadar dan sebagai contoh aktivitas sadar boleh disebut; persepsi
lahiriah, persepsi batin, proses-proses intelektual. Sebagai contoh tentang
aktivitas prasadar dapat dikemukakan fungsi ingatan. Dan aktivitas tak sadar Ego dijalankan dengan
mekanisme-mekanisme pertahanan (defence
mecanism). Ego seluruhnya
dikuasai oleh prinsip realitas, seperti tampak dalam pemikiran yang objektif,
yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan sosial, yang rasional dan mengungkapkan
diri melalui bahasa. Ego juga
mengontrol apa yang mau masuk ke kesadaran dan apa yang akan dikerjakan.
Akhirnya, Ego menjamin kesatuan
kepribadian, dengan kata lain berfungsi mengadakan sintesis.
Instansi yang ketiga, Superego dibentuk melalui internalisasi (internalization), artinya larangan-larangan atau perintah-perintah
yang berasal dari luar (para pengasuh, khususnya orangtua) diolah sedemikian
rupa sehingga akhirnya terpancar dari dalam. Dengan kata lain, Superego adalah buah hasil proses internalisasi,
sejauh larangan-larangan dan perintah-perintah yang tadinya merupakan sesuatu
yang asing bagi si subyek, akhinya dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari
subyek sendiri. Superego merupakan
dasar hati nurani moral. Aktivitas Superego
menyatakan diri dalam konflik dengan Ego
yang dirasakan dalam emosi-emosi seperti bersalah, rasa menyesal, dan lain
sebagainya. Sikap-sikap seperti observasi diri, kritik diri, dan inhibisi
berasal dari Superego. Menurut Freud
kompleks Oidipus memainkan peranan besar dalam pembentukan Superego.
Teori baru tentang naluri-naluri dan susunan hidup
psikis mempunyai konsekuensi penting dalam praktek psikoanalisis. Konflik tidak
lagi dianalisis sebagai pertentangan antar naluri, tetapi sebagai pertahanan Ego terhadap dorongan-dorongan naluriah,
dimana agresivitas mempunyai tempat sama penting dengan seksualitas, sehingga
harus disimpulkan bahwa agresivitas punya andil sama besar seperti seksualitas
dalam menyebabkan neurosis. Karena itu kiranya sudah jelas bahwa tuduhan panseksualisme
(maksudnya: bahwa segala sesuatu diasalkan dari seksualitas) yang masih sering
diajukan terhadap pemikiran Freud, tidaksesuai dengan kenyataan dan menunjukan
bahwa orang yang bilang begitu kurang mengenal ajaran Freud secara menyeluruh.
Di dalam
filsafat dan psikoanalisis, jiwa adalah bagian dari manusia yang memiliki
fungsi-fungsi tertentu. Pertama, jiwa adalah pintu manusia menuju kenyataan (Zugang
zur Wirklichkeit). Tanpa jiwa, tubuh tidakakan berarti apa-apa. Manusia tidakbisa
terhubung dengan kenyataan di luar dirinya.
Peran kedua
jiwa adalah melakukan seleksi terhadap segala bentuk pengetahuan yang masuk ke
dalam kepala kita. Kenyataan itu amat rumit. Sebagai manusia, kita tidakbisa
menerima semua informasi yang ada. Disinilah peran jiwa, yakni sebagai
penyeleksi segala bentuk informasi yang masuk ke kepala kita, sehingga bisa
diolah.
Jiwa juga
bukan sesuatu yang statik. Ia kreatif dan fleksibel. Ia memungkinkan manusia
melampaui masalah-masalahnya, dan juga melampaui penderitaan-penderitaannya. Ia
membuat manusia tidakmenjadi budak dari kenyataan. Karena fleksibel dan
kreatif, jiwa juga membantu manusia untuk menjaga kelestarian dirinya. Ia
mendorong manusia untuk jatuh cinta dan berkembang biak. Pria dan wanita,
menurut Ruppert, memiliki jenis jiwa yang berbeda. Namun, keduanya memiliki
tujuan yang sama, yakni mengembangkan dan menjaga keberlangsungan hidup
manusia.
Jiwa
memungkinkan manusia untuk memahami dunianya, berpikir, mengingat dan membentuk
kesadaran dirinya. Jiwa menyeleksi sekaligus mengolah informasi yang kita
tangkap dari dunia. Jiwa juga menuntun tindakan kita sehari-hari. Jiwa adalah
elemen utama dalam diri manusia yang memungkinkan bagian-bagian biologisnya
(organ tubuhnya) bergerak dan berkembang. Jiwa manusia memiliki tiga keadaan
dasar, yakni keadaan senang, penuh tekanan dan keadaan traumatik. Ketika orang
merasa senang, dunia seolah terbuka untuknya. Dia siap untuk merengkuh beragam
kemungkinan yang ada. Kecemasan jauh dari hidupnya.
Ketika orang
merasa tertekan, dunianya seolah tertutup. Ia selalu terjaga dan cemas. Ia tidak
bisa tenang. Ia selalu waspada, andaikan nasib buruk menimpanya. Ketika orang
merasa tertekan, ia menjalani hidupnya dengan berat. Ia butuh banyak sekali
energi untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Tertekan adalah dampak langsung
dari trauma yang terpendam. Di dalam keadaan ini, orang akan gampang lelah,
walaupun hanya melakukan pekerjaan yang ringan.
Keadaan
ketiga adalah keadaan trauma, yakni ketika orang mengalami peristiwa yang amat
menyakitkan dirinya. Jejak peristiwa itu masih terasa, walaupun peristiwa itu
sudah lama berlalu. Di dalam keadaan ini, orang akan melihat dunia secara
gelap. Kenyataan menjadi begitu menyakitkan, walaupun ia hanya menjalani
kegiatan sehari-hari yang biasa.
Konsep kunci bahwa manusia adalah mahkluk yang
memiliki kebutuhan dan keinginan. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses
bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan
dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan
bimbingan harus berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh
konseling, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini
sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Bimbingan dibagi menjadi tiga
yaitu:
1.
Memahami individu (understanding individu)
2.
Preventif dan pengembangan individual
3.
Membantu individu untuk menyempurnakannya
Konsep psikoanalisis yang menekankan pengaruh masa
lalu terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli mengkritik, namun
dalam beberapa konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual.
Dalam sistem pembinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga
dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai
dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan
tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah
keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan
akan tumbuh menjadi manusia yang baik. Dalam hal ini hadis Nabi menyatakan
bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih.
Kedua orangtuanyalah yang ikut mewarnai sampai dewasa. Selain itu seorang
penyair menyatakan bahwa tumbuhnya generasi muda kita seperti yang
dibiasakanoleh ayah dan ibunya. Hadis dan syair tersebut diatas sejalan dengan
konsep Freud tentang kepribadian manusia yang disimpulkannya sangat tergantung
pada apa yang diterimanya ketika ia masih kecil. Namun tentu saja terdapat
sisi-sisi yang tidakbegitu dapat diaplikasikan, karena pada hakikatnya manusia
itu bersifat baharu.
Konsep manusia manusia sendiri menurut psikoanalisa,
psikoanalisa sering ditafsirkan dalam tiga batas pengertian. Pertama, sebagai
suatu konsep teoritik dalam ilmu perilaku yang menjelaskan struktur dan
dinamika kepribadian manusia. Kedua, suatu bentuk psikoterapi bagi gangguan
jiwa. Ketiga, sebagai suatu teknik untuk menyusuri pikira-pikiran dan
perasaan-perasaan tak sadar manusia. Konsep kepribadian dalam teori ini diawali
dengan pendapat Sigmund Freud tentang kehidupan manusia yang dikuasai oleh alam
ketIdaksadarannya (unconsciousness). Melalui studi dari
pasien-pasiennya, Freud menemukan bahwa bermacam-macam kelainan tingkah laku
disebabkan oleh faktor yang terdapat dalam alam ketIdaksadaran ini. Karena itu
untuk memahami gangguan perilaku dibutuhkan teknik untuk menganalisa alam ketidaksadaran
ini yang digambarkan oleh Freud berada di bawah dan yang tertutup oleh alam
kesadarannya konsep Id, Ego, dan Superego ini muncul berdasarkan pemahaman Freud yang mengumpamakan
keadaan dan proses mental manusia itu ibarat gunung es yang mengambang di
tengah laut. Bagian permukaannya yang timbul hanyalah sebagian dari apa yang
dapat diobservasi tentang keadaan dalam jiwa itu, dan yang merupakan alam
kesadaran. Bagian terbesar justru tidaktampak dan tenggelam dibawah permukaan,
yang merupakan alam ketidaksadaran. diantara kedua alam tersebut terdapat alam
prasadar. bagi freud alam ketidaksadaran inilah yang paling penting diperhatikan
untuk memahami apa yang menjadi isi pikiran dan perasaan manusia yang melalui
interaksi ketiga sistem dalam kepribadian manusia kemudian membentuk perilaku
manusia.
Eksplanasi Freud tentang bentuk keabnormalan perilaku
yang bersumber dari kekuatan libido ini menunjukan kejelasan yang dangkal.
Kekuatan dorongan tersebut telah membutakan manusia dan menjadikannya tidak berdaya
untuk mengembangkan diri ke arah yang positif, tetapi mengarah kepada
penyimpangan perilaku dalam upanyanya mengatasi, menahan, dan menyiasati
dorongan seksual itu. Manusia dalam ketIdakberdayaannya
melawan libIdonya digambarkan oleh
Freud menjadi wujud mahkluk yang begitu pesimis dapat keluar dari belenggu
impulsnya itu, seolah-oleh tidakada potensi, misalnya berupa akall, kata hati
atau hati nurani dan keyakinan akan dukungan kekuatan supranatural berupa iman
dan taqwa kepada Tuhannya, yang dapat dikembagkan oleh dirinya sendiri untuk
melawan hal yang instiingtif itu. Dengan demikian manusia menjadi tidaklagi
berbeda dengan mahkluk hewan yang bergerak atas instingnya saja. sebagai
mahkluk yang berakal dan memiliki keyakinan agama.
Contoh Kasus
Seseorang yang mengalami depresi ketika menghadapi suatu
tantangan kenyataan hidup, yang biasanya ditandai dengan perasaan murung, kehilangan
gairah untuk melakukan hal-hal biasa dilakukannya dan tidak bisa
mengeksorisikan kegembiraan. Biasanya terjadi pada awal sampai pertengahan
dewasa. Bisa terjadi sekali, bisa terjadi sering kali. Bisa sebentar, bisa
selama hidup.
Penyebab
depresi sangat bermacam-macam. Faktor psikologis yang bisa menyebabkan depresi
antara lain adalah adanya harapan (keinginan, cita-cita) yang tidak terpenuhi,
seperti putus cinta, tidak diterima di perguruan tinggi favorit, atau masalah
perkawinan yang kronis. Depresi karena sebab-sebab fisik atau medis biasanya tidak
dIdiagnosis sebagai depresi, oleh
karena itu, kadang-kadang dokter perlu melakukan pemeriksaan laboraturium umum
untuk memastikan apakah gejala depresi itu murni ataukah karena faktor
fisik-medis yang lain. Jika depresi itu murni pun tidak selalu memerlukan
perawatan. Jika depresi yang berkepanjangan akan memerlukan bantuan seorang
psikolog, dengan disiplin ilmu mengenai kejiwaan mampu melakukan intervensi. Dengan
melakukan pendekatan keilmuan ini akan mampu mengembangkan kekuatan dan
kebajikan individu terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, serta mampu
menjadi orang yang berguna untuk kehidupan kedepannya.
REFERENSI
Freud, Sigmund.
2006. Psikoanalisis: Sigmund Freud. Gramedia
Pustaka Utama: Jakarta.
---- Handbook
For The New Paradigm. Carson City: Bridger House Publisher, Inc.
Webel, Charles,
and Galtung, Johan (2007). Handbook of
Peace And Conflict Studies. Routledge: New York.
Woodhouse, Mark
B. (2000). Berfilsafat Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar