Minggu, 23 November 2014

Jurnal Kecemasan Atlet Paralympic (Atlet Disabilitas) ketika akan menjelang pertandingan

POLA KECEMASAN PADA ATLET PARALYMPIC
 (OLAHRAGA KHUSUS ATLET DISABILITAS)
(Sebuah Studi Pendahuluan)

Bekti Irawan
(Bekti.awan-2014@psikologi.unair.ac.id)

Program Magister Sains Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga

Abstrak
Pada penelitian ini menganalisis mengenai pola kecemasan yang dimiliki para atlet dengan disabilitas, karena atlet dengan disabilitas ini pasti memiliki pola kecemasan yang berbeda dari atlet normal. kecemasan dianggap merupakan faktor yang dapat menghambat penampilan dan prestasi atlet. Ketika pola kecemasan dapat diketahui sejak awal, pihak tim akan mampu melakukan intervensi yang dapat memaksimalkan dan mengelola kecemasan para atlet dengan disabilitas ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan cara pengumpulan data wawancara yang berupaya untuk mengetahui pola kecemasan dari atlet dengan disabilitas ketika akan bertanding dengan subjek 4 orang atlet disabilitas dan 1 orang staf pelatih. Teknik analisis data menggunakan analisis tema (Thematic analysis). Hasil dari penelitian ini faktor internal menunjukan bahwa atlet dengan disabilitas menunjukan trait anxiety yang tinggi ketika akan menghadapi pertandingan. Kecemasan ini lebih dominan ditimbulkan akibat Fear of Failure (ketakutan akan mengalami kegagalan). Ada pula atlet disabilitas yang memiliki  tingkat kecemasan rendah karena hanya mencemaskan strategi lawan yang akan diterapkan pada pertandingan dan menganggap lawan lebih unggul dari diri atlet disabilitas ini, sedangkan faktor eksternal yang sering timbul namun tidak begitu berdampak pada kecemasan atlet disabilitas adalah banyaknya penonton yang didalam area pertandingan.
Bahwa atlet dengan disabilitas memiliki pola kecemasan kompetisi yang rendah cenderung mampu mengendalikan rasa cemas mereka sesaat akan bertanding.

Kata Kunci : Kecemasan, Atlet Disabilitas


Olahraga prestasi yang lazimnya hanya dilakukan oleh atlet normal bertubuh fisik proposional yang tidak memiliki kecacatan, namun penyandang disabilitas juga bisa mengikuti olahraga prestasi seperti pada orang lain pada umumnya, olahraga bagi penyandang cacat olahraga yang khusus dilakuakan sesuai dengan kondisi kelainan fisik dan atau mental seseorang, yang diselenggarakan pada lingkup pendidikan, olahraga rekreasi, dan olahraga prestasi.  divisi olahraga prestasi khusus yang mewadahi atlet disabilitas yaitu paralympic. ini adalah kompetisi olahraga khusus yang peraturannya disetujui oleh International Paralympic Committee (IPC), dimana selaku federasi tertinggi internasional dan organisasi resmi di Indonesia adalah National Paralympic Committee (NPC). Organisasi ini merupakan intitusi resmi yang menaungi atlet-atlet dan olahraga khusus penyandang disabilitas di Indonesia. NPC (National Paralympic Committee) menaungi beberapa olahraga khusus penyandang disabilitas seperti dayung, renang, tenis meja, menembak, atletik, panahan,dan olahraga beregu yang menggunakan kursi roda. Jenis kecacatan yang dibina oleh NPC (National Paralympic Committee) antara lain cacat amputi, cacat les autress, cacat paraplegia, cacat cerebral palsy, cacat netra, dan lain-lain (tuna rungu wicara, tuna grahita). Dalam hal ini kemampuan secara fisik dan psikologis pasti berbeda dari atlet normal, pada atlet disabilitas pastinya mempunyai cara yang berbeda untuk memaksimalkan penampilannya pada saat sebelum, selama, dan sesudah pertandingan.
Banyak faktor dalam mempengaruhi penampilan atlet, salah satu faktor yang termasuk mempunyai peran penting yaitu faktor psikologis, permasalahan psikologis sering muncul ketika akan melakukan pertandingan adalah salah satunya kecemasan (anxiety), didalam dunia olahraga ini merupakan aspek yang memiliki kaitan yang sangat erat antara satu sama lain sehingga sulit untuk dipisahkan. Masalah kecemasan pra-kompetisi adalah salah satu masalah yang paling mendesak dalam psikologi olahraga modern. Ini telah diakui selama bertahun-tahun bahwa faktor psikologis, kecemasan khususnya, memainkan peran yang penting dalam kompetisi dan olahraga kompetitif, setiap atlet akan mengalami rasa takut sebelum, selama dan sesudah pertandingan. Kecemasan bahkan bisa membuat atlet yang paling sukses pun akan mengalami kegugupan.
Kecemasan (anxiety) menurut Durand (2006) adalah keadaan suasana hati yang ditandai oleh efek negatif dan gejala-gejala ketegangan jasmaniah dimana seseorang mengantisiapasi kemungkinan datangnya bahaya atau kemalangan di masa yang akan datang dengan perasaan khawatir. Kecemasan mungkin melibatkan perasaan, perilaku, dan respon-respon fisiologis. Pada manusia kecemasan bisa jadi berupa perasaan gelisah yang besifat subjektif, sejumlah perilaku (tampak khawatir dan gelisah, dan resah), atau respons fisiologis yang bersumber di otak dan tercermin dalam bentuk denyut jantung yang meningkat dan otot yang menegang. Kecemasan adalah pengalaman yang tidak menyenangkan, namun menurut Lazarus (1991) mendefinisikan kecemasan (anxiety) sebagai “…an unique emotion, because its hallmark, ambiguity (of the avalaible information) or an uncertainty (the resulting psychological state), which I believe stems mainly from its existential underpinnings, all but immobilize us with respect to coping”. Berdasarkan definisi tersebut, kecemasan merupakan emosi yang unik karena ditandai dengan perasaan ambiguitas (dari informasi yang tersedia) dan ketidaktentuan (kondisi psikologis yang diahsilkan). Kecemasan muncul karena individu memiliki dasar eksistensial. Adanya kecemasan dapat menghalangi individu dalam mengatasi hal-hal yang berhubungan dengan kecemasannya.
Sehubungan dengan kecemasan yang kompetitif, kecemasan dapat dipandang dari dua dimensi, yaitu state anxiety dan trait anxiety. state anxiety dapat dikonseptualisasikan sebagai keadaan emosi sementara atau kondisi organisme manusia yang bervariasi dalam intensitas dan fluktuasi yang berlebihan. Kondisi ini ditandai dengan subjektif, perasaan sadar akan ketegangan, ketakutan dan aktivasi system saraf otonom. Ini adalah respon emosional yang cepat dan saat ini dapat berubah dari waktu ke waktu dan situasi berikutnya. Trait anxiety sudah tertanam dalam kepribadian seseorang dan individu dengan gangguan seperti ini cenderung melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya dan mengancam. Dalam proses kompetisi dan kecemasan dasar dinamakan kecemasan kompetitif dasar. Kompetitif dasar adalah sebuah konstruk yang mendeskripsikan perbedaaan individu dalam kecenderungan untuk mempersepsi kompetisi sebagai sesuatu yang mengancam dan untuk merespon situasi tersebut dengan intensitas yang berbeda dari reaksi state anxiety.
Ada pula pengaruh kecemasan yang dikemukakan oleh Leunes (1985) bahwa pengaruh kecemasan dibagi menjadi dua yaitu kecemasan somatik (somatic anxiety) dan kecemasan kognitif (cognitive anxiety). Kecemasan somatik (somatic anxiety) ini mempengaruhi perubahan-perubahan fisiologis yang berkaitan dengan munculnya rasa cemas. Kecemasan somatik ini merupakan tanda-tanda fisik saat seseorang mengalami kecemasan, tanda-tanda tersebut antara lain: perut mual, keringat dingin, kepala terasa berat, muntah-munta, pupil mata melebar, dan otot menegang, sedangkan kecemasan kognitif (cognitive anxiety) adalah pikiran-pikiran cemas yang muncul bersamaan dengan kecemasan somatis. Pikiran-pikiran cemas tersebut antara lain kuatir, ragu-ragu, bayangan kekalahan atau merasa malu. Pikiran-pikiran tersebut membuat seseorang selalu merasa dirinya cemas. Makin tinggi kekhawatiran, makin buruk penampilan atlet.
Menurut beberapa ahli psikolog, psikis dalam kegiatan olahraga. James E. Lohr dalam Gunarsa mengatakan bahwa “at least 50 percent of the process of playing well is the result of mental and psychological factor” atau dengan kata lain 50 persen dari proses bermain baik adalah hasil dari faktor mental dan psikologis.
Dengan hasil yang diperoleh, peneliti berharap bahwa nantinya akan diperoleh data yang bisa digunakan untuk mengoptimalisasikan para atlet paralympic dan merancang strategi yang diperlukan untuk meminimalisir kecemasan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Bogdan & Taylor (dalam Moleong, 1989: 3) mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Subjek penelitian yaitu atlet paralympic dengan cabor tenis meja dari Jawa Tengah yang berjumlah 4 orang atlet, yang sedang mengikuti ujicoba di Surabaya. Subjek berusia antara 22-25 tahun. Atlet paralympic ini penyandang tunadaksa. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara, yaitu percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh kedua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 1989: 135).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kecemasan menghadapi pertandingan kompetisi dapat disebabkan ada dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal meliputi ketakutan akan kegagalan (fear of failure), ketakutan akan cedera fisik, ketakutan akan penilaian sosial, dan faktor eksternal meliputi ketidaktahuan akan kekuatan lawan yang akan dihadapi, teror dari penonton, dan kekacauan dari latihan rutin (Husdarta, 2010). Dari hasil analisis peneliti dijelaskan pada masing-masing faktor:
1.      Faktor internal
a.    Ada 2 atlet disabilitas yang berinisial GC dan AN mengalami kecemasan dari faktor internal, penyebabnya yaitu takut bermain buruk ketika pertandingan dan masih minimnya pengalaman bertanding atau jam terbang,  sehingga atlet akan mengalami ketakutan akan kegagalan (Fear of failure).

b.    Atlet disabilitas yang berinisial A mengalamikecemasan disebabkan oleh minim pengalaman, merasa lawan lebih hebat dari dirinya dan hilang konsentrasi saat bertanding. Dalam hal ini menyebabkan fail of failure (ketakutan akan mengalami kegagalan) terhadap atlet diabilitas yang bersangkutan.

Dalam hal ini atlet-atlet ini mengalami trait anxiety yang tinggi, yaitu suatu predisposisi untuk mempersepsikan situasi lingkungan yang mengancam dirinya. Kondisi emosi, baik pada kecemasan maupun stres, adalah sesuatu yang wajar muncul. Bahkan dalam situasi-situasi tertentu, kondisi ini dibutuhkan agar membangkitkan gugahan emosi dalam bentuk kegairahan untuk melakukan sesuatu, meskipun dibayang-bayangi oleh ketakutan gagal. Jika seorang atlet pada dasarnya memiliki trait anxiety, maka manifestasi kecemasannya akan selalu berlebihan dan mendominasi aspek psikisnya. Hal ini merupakan kendala yang serius bagi atlet tersebut untuk dapat berpenampilan baik seperti yang dikemukakan oleh Gunarsa (2008).

c.         Atlet disabilitas yang berinisial GR ini memilki kecemasan (anxiety) yang rendah seperti hanya mencemaskan strategi yang akan dipakai lawan, dan juga menganggap lawan lebih unggul dalam hal pengalaman bertanding. Atlet ini mampu mengendalikan kecemasannya ketika akan bertanding.

Pada atlet ini juga mengalami trait anxiety, namun dalam taraf intensitas yang rendah, kecemasannya sering berubah-ubah dari suatu waktu ke waktu yang lainnya, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi dan situasi yang terjadi saat ini. Kecemasan pada kadar yang rendah membantu individu untuk bersiaga mengambil langkah langkah mencegah bahaya atau memperkecil bahaya tersebut. Kecemasan sampai pada taraf tertentu dapat mendorong meningkatnya performa.

Secara teoritis, seorang atlet yang didominasi oleh trait anxiety dapat mengubah gambaran kepribadiannya tersebut melalui berbagai pengalaman positif tertentu, seperti meraih sukses terus-menerus. Namun pada seorang atlet yang sebenarnya berpotensi sangat baik untuk dapat berprestasi atau meraih gelar juara, akhirnya gagal akibat sifatnya yang sangat pencemas dan mudah tegang. Atlet tersebut bahkan mungkin mengundurkan diri sebelum tampil maksimal karena tidak dapat menguasai kecemasannya.
Sumber penyebab atlet mengalami kecemasan (anxiety) dari sisi faktor internal yaitu:
a.         Atlet terlalu terpaku pada kemampuan teknisnya, akibatnya atlet didominasi oleh pikiran-pikiran yang terlalu membebani, seperti komitmen yang berlebihan bahwa dia harus bermain dengan baik
b.        Munculnya pikiran-pikiran negatif, seperti ketakutan akan dicemooh oleh penonton jika seorang atlet tidak memperlihatkan penampilan yang baik. Pikiran-pikiran negatif tersebut menyebabkan atlet mengantisipasi suatu kejadian yang negatif.
c.         Alam pikiran atlet akan sangat dipengaruhi oleh kepuasan yang secara subjektif ia rasakan di dalam dirinya. Padahal hal tersebut sering kali tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya atau tuntutan dari pihak lain seperti pelatih dan penonton. Pada atlet akan muncul perasaan khawatir akan tidak mampu memenuhi keinginan pihak luar sehingga menimbulkan ketegangan baru (Gunarsa, 2008).
Pada pengaruhnya kecemasan dibagi menjadi dua dimensi yaitu kecemasan somatik (somatic anxiety) dan kecemasan kognitif (cognitive anxiety). Kecemasan somatic (somatic anxiety) ini mempengaruhi perubahan-perubahan fisiologis yang berkaitan dengan munculnya rasa cemas. Kecemasan somatik ini merupakan tanda-tanda fisik saat seseorang mengalami kecemasan, tanda-tanda tersebut antara lain: perut mual, keringat dingin, kepala terasa berat, muntah-munta, pupil mata melebar, dan otot menegang, sedangkan kecemasan kognitif (cognitive anxiety) adalah pikiran-pikiran cemas yang muncul bersamaan dengan kecemasan somatis. Pikiran-pikiran cemas tersebut antara lain kuatir, ragu-ragu, bayangan kekalahan atau merasa malu. Pikiran-pikiran tersebut membuat seseorang selalu merasa dirinya cemas. Makin tinggi kekhawatiran, makin buruk penampilan atlet
Kedua jenis kecemasan tersebut terjadi secara bersamaan, artinya ketika seorang atlet mempunyai keragu-raguan saat akan bertanding, maka dalam waktu yang bersamaan dia akan mengalami kececemasan somatis, yakni dengan adanya perubahan-perubahan fisiologis, namun memberikan pengaruh yang berbeda terhadap penampilan atlet.
2.        Faktor eksternal
Untuk faktor eksternal ini secara keseluruhan semua atlet tidak begitu mengalami kecemasan yang berarti, secara umum kecemasan yang timbul hanya dikarenakan tuntutan dari manajamen tim, banyaknya penonton, dan ketidaktahuan atlet akan informasi-informasi yang berkaitan dengan calon lawan yang akan dihadapinya nanti, namun dari beberapa kecemasan, yang sering terjadi pada atlet disabilitas adalah banyaknya penonton didalam area pertandingan.
Pada faktor eksternal ini ada beberapa yang menjadi sebab akan munculnya kecemasan, yaitu:
a.    Munculnya rangsangan yang membingungkan. Rangsangan tersebut dapat berupa tuntutan atau harapan dari luar yang menimbulkan keraguan pada atlet untuk mengikuti hal tersebut, atau sulit dipenuhi. Keadaan ini menyebabkan atlet mengalami kebingungan untuk menentukan penampilannya, bahkan kehilangan kepercayaan diri.
b.    Pengaruh massa atau penonton. Dalam pertandingan apa pun, emosi massa sering berpengaruh besar terhadap penampilan atlet, terutama jika pertandingan tersebut sangat ketat dan menegangkan. Reaksi masssa dapat bersifat mendukung, sehingga ketegangan yang ada pada atlet menjadi positif. Dalam keadaan yang demikian, atlet akan merasa seolah-olah apa saja yang ia lakukan dapat berhasil dengan baik. Ketegangan yang positif akibat pengaruh lingkungan dapat membangkitkan suatu upaya untuk mengalahkan lawan dengan gerakan atau pukulan yang luar biasa, seakan-akan secara tiba-tiba muncul kekuatan batu. Sebaliknya, reaksi massa juga dapat berdampak negatif, yaitu jika penonton berada suasana emosi yang meluap-luap dan menuntut sehingga mengeluarkan teriakan yang negatif. Hal ini menyebabkan atlet menjadi serba salah dalam bertindak, sehingga penampilan atlet menjadi sangat buruk.
c.    Saingan-saingan lain yang bukan lawan tandingnya. Seorang atlet menjadi sedemikian tegang ketika menghadapi kenyataan bahwa ia mengalami kesulitan untuk bermain sehingga keadaannya menjadi terdesak. Pada saat harapan untuk menang sedang terancam, akan muncul berbagai pemikiran-pemikiran negatif.
d.   Pelatih yang memperlihatkan sikap tidak mau memahami bahwa ia telah berupaya sebaik-baiknya. Pelatih seperti ini sering menyalahkan atau bahkan mencemooh atletnya, yang sebenarnya dapat menguncangkan kepribadian atletnya tersebut.
e.    Hal-hal non teknis, seperti kondisi lapangan, cuaca yang tidak bersahabat, angin yang bertiup terlalu kencang, atau peralatan yang dirasakan tidak memadai.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil yang dibahas mengenai kecemasan pada atlet disabilitas (Paralympic) ketika akan bertanding, didapatkan atlet disabilitas (paralympic) mengalami trait anxiety dengan taraf yang tinggi. Faktor yang menyebabkan kecemasan dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor yang menyebabkan kecemasan paling dominan pada atlet disabilitas (paralympic) adalah faktor internal, kecemasan yang ditimbulkan oleh faktor internal secara umum sama yaitu  ketakutan akan mengalami kegagalan (Fear of failure). Faktor internal lain yang juga dapat menimbulkan kecemasan namun tidak begitu berdampak pada atlet disabilitas yang meliputi kecemasan akan strategi lawan yang akan diterapkan pada pertandingan dan menganggap lawan lebih unggul dalam hal pengalaman bertanding dan mucum kecemasan faktor eksternal seperti banyaknya penonton di area pertandingan, namun tidak begitu memiliki dampak yang mengkhawatirkan pada atlet disabilitas ini.

DAFTAR PUSTAKA

Amasiatu, Athan. N. & Uko, Ime Sampson 2013. Coping With Pre Competitive Anxiety In Sports Competition. European Journal of  Natural and Applied Sciences. 1 (1) : 1-9.
Burton, Damon, and Naylor, Sarah 1997. Is Anxiety Really Facilitative? Reaction to the Myth that Cognitive Anxiety Always Impairs Sport Performance. Journal Of Applied Sport Psychology. 9 : 295-302.
Cox, Richard (1985). Sport Psychology: Concepts and Aplications (2nd). New York:  Wm.C. Brown Publishers.
Dabas,  Neeraj. 2014.  Sports Competition Anxiety as a Psychological Trait between Indian Paralympics Sportsmen and Regular Athletes. Indian Journal of Movement Education and Exercises Sciences (IJMEES), 4 (2): 1-6.
Graydon, Jan 2002. Stress And Anxiety In Sport. Sport and Exercise, 15 (8) : 408-410.
Jarvis, Matt (2006). Sport Psychology: A Student’s Handbook. New York: Routledge. (Handbook)
Leunes, Arnold, & Nation Jack R. (2002). Sport Psychology (3rd ed.). United States of America: Wadsworth.

Parnabas,  Vincent A. 2012. Anxiety and Imagery of Green Space among Athletes.  British Journal of Arts and Social Sciences.4 (1) : 67-72
Singh,  Amritpreet, and Gauray, Vishaw 2011.  A Study of Pre-Competitive and Post-Competitive Anxiety Level of Inter-collegiate Volleyball Players. International Journal of Sports Science and Engineering. 5 (4) : pp 237-241.
Strahler, K., Ehrlenspiel, F., Heene, M., Brand, R. 2010. Competitive anxiety and cortisol awakening response in the week leading up to competition. Psychology of Sport and Exercise, 11; 148-154.
















Filsafat Manusia Psikoanalisa



Dasar-Dasar Filsafat Manusia Psikoanalisa
Marx melontarkan ide bahwa manusia adalah Quo manusia entitas yang dapat dikenali dan diketahui, bahwa manusia dapat didefinisikan sebagai manusia bukan hanya secara biologis, anatomis, dan fisik tetapi juga secara psikologis. Ada dua hasrat dalam diri manusia menurut Marx yakni dorongan konstan atau tetap seperti lapar, nafsu seksual yang merupakan bagian integral dalam watak manusia, dan dorongan yang relatif yang merupakan bagian integral dalam watak manusia tetapi berasal dari struktur sosial. Manusia benar-benar berubah sepanjang sejarah, mengembangkan dirinya, dia adalah produk sejarah. Sejarah adalah sejarah perwujudan diri manusia. keseluruhan dari apa yang disebut sejarah tidak lain adalah penciptaan manusia oleh tenaga buruh, dan terciptanya alam bagi manusia.  oleh karenanya manusia memiliki bukti yang tidak dapat disangkal atau penciptaan dirinya atas asal-usulnya.
Manusia akan hidup hanya jika ia produktif, menguasai dirinya dengan tindakan untuk mengkspresikan kekuasaan manusiawinya yang khusus. Ekspresi diri manusia ini teraktualisasi dalam kerja. Yang menjadi titik awal bagi  analisis Marx ialah teori ekonomi klasik yaitu teori nilai kerja. Dalam mengekspresikan dirinya dibutuhkan kemerdekan dan kebebasan. Kemerdekaan dan kebebasan baginya didasarkan pada perilaku menciptakan diri. Seorang manusia tidak akan merdeka jika ia tidak menjadi majikan bagi dirinya sendiri, dan dia hanya dapat menjadi majikan bagi dirinya sendiri ketika meminjamkan eksistensinya untuk dirinya sendiri.
Buruh adalah sebuah proses dimana manusia dan alam berpartisipasi dan dimana manusia  dengan kehendak sendiri memulai, mengatur dan mengendalikan hubungan material antara dirinya dengan alam. Manusia mempertentangkan dirinya dengan alam sebagai salah satu kekuatannya sendiri yang menggerakkan tangan dan kaki, kepala dan tangan, kekuatan alam dari tubuhnya dalam rangka mengakprosi produksi alam dalam bentuk yang sesuai dengan keinginannya sendiri.
Disisi lain, Fakta –fakta psikologis yang digunakan Freud untuk menyimpulkan prinsip semacam itu berasal dari pengalamannya dengan pasien-pasien neurotis maupun dari hidup psikis yang normal. Tentu saja, beberapa pengulangan dapat dimengerti berdasarkan prinsip kesenangan Freud berpendapat bahwa keterangan psikologis tadi dapat dilengkapi lagi dengan suatu pandangan berdasarkan biologi. Pada semua mahkluk hidup kita melihat kecenderungan untuk kembali ke suatu keadaan lebih dahulu, yaitu ke suatu keadaan anorganis. Dengan kata lain, kehidupan cenderung kembali ke kematian. Jadi keharusan untuk mengulangi adalah prinsip psikologis yang berakar kuat dalam biologi. Refleksi tentang keharusan untuk mengulangi membawa Freud ke teorinya tentang naluri-naluri kematian dan naluri-naluri kehidupan. Baginya sudah jelas bahwa libIdo tidakdapat dimengerti sebagai terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri. Tendensi penghancuran dan agresi tidak mungkin berasal dari libIdo. Dalam perkembangan kepribadiannya, Freud berlandaskan pada dua premis. Pertama adalah pendekatan genetik yang menekankan pada masa kanak-kanak yang dianggapnya memegang peranan penting dalam pembentukan pribadi individu, dari premis inilah Freud menyakini bahwa usia balita merupakan masa rawan yang akan menentukan siapa kelak pribadi seseorang itu. Premis yang kedua adalah bahwa libIdo atau energi seksual telah hadir ketika bayi lahir dan selanjutnya.
Kita harus menerima dua macam naluri: disatu pihak naluri-naluri kehidupan atau dengan nama lain libIdo atau eros. Dan di pihak lain naluri-naluri kematian atau dengan nama lain Thanatos. Naluri kehidupan kecondongan untuk mempertahankan Ego (the conservation of the individual) maupun kecondongan untuk melangsingkan jenis (the conservation of the species), baik libIdo narsistis maupun libIdo berobjek. Tujuan naluri-naluri kehidupan adalah pengikatan (binding), artinya mengadakan kesatuan yang semakin erat dan karena itu semakin mantab.
Naluri kematian bertujuan untuk menghancurkan dan menceraikan apa yang sudah bersatu, karena tujuan terakhir setiap mahkluk hidup ialah kembali ke keadaan anorganis. Karena itu dapat  dikatakan bahwa naluri-naluri kehidupan maupun naluri-naluri kematian bersifat “konservatif”, dalam arti bahwa keduanya berusaha untuk mempertahankan suatu keadaan yang lebih dahulu. Naluri-naluri kehidupan mempertahankan kehidupan yang sudah ada, sedangkan naluri-naluri kematian berusaha mempertahankan keadaan anorganis. Menurut pendapat Freud, dua jenis naluri ini sesuai dengan dua proses pada taraf biologis yang berlangsung dalam setiap organisme, yaitu pembentukan dan penghancuran (construction and destruction). Misalnya, anabolisme dan katabolisme dalam sel-sel setiap organisme.
Menurut Freud (2006), perilaku manusia itu ditentukan kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukan bahwa tentang aliran teori Freud mengenai sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidaksadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh lagi Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalalh ditentukan, tetapi tidaklinier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibanyangkan pada orang tersebut. Disini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah.
Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Freud, prinsip-prinsip psikoanalisa tentang hakikat manusia dIdasarkan pada asumsi-asumsi:
a.       Pengalaman masa kanak-kanak mempengaruhi perilaku di masa dewasa
b.      Proses mental yang tidakdisadari mengintegrasi perilaku-perilaku
c.       Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan mengembangkan diri melalui dorongan libIdo dan agresivitas sejak lahir
d.      Secara umum perilaku manusia bertujuan untuk meredakan ketegangan, menolak kesakitan, dan mencari kenikmatan
e.       Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan seksual mengarah pada perilaku neurosis
f.       Apa yang terjadi pada seseorang saat ini dihubungkan pada sebab-sebab di masa lampaunya dan memotivasi untuk mencapai tujuan-tujuan di masa mendatang
g.      Latihan pengalaman di masa kanak-kanak akan berpengaruh penting pada perilaku pada masa dewasa dan diulangi dalam taransferasi selama proses terapi.
Dalam buku Ego dan Id (1923) untuk pertama kalinya Freud melukiskan suatu teori baru tentang susunan hidup psikis. Seperti sudah diketahui, dalam susunan pertama ia membedakan dua sistem: sistem sadar-prasadar, disamping sistem tak sadar. Yang tak sadar itu disamakan dengan yang depresi, sedangkan yang merepresi adalah Ego atau sistem sadar-prasadar. Lama kelamaan teori pertama itu bagi Freud tidakmemadai lagi, terutama karena penelitian lebih lanjut sudah menyatakan kepadanya bahwa rangka proses represi apa yang merepresi bersifat tak sadar pula.



 







Dalam buku yang disebut tadi Freud membedakan tiga sistem dalam hidup psikis : Id, Ego, dan Superego. Dalam peristilahan psikoanalisis, tiga faktor ini dikenal juga sebagai instansi yang menandai hidup psikis. Marilah kita memandang ketiga instansi ini lebih dekat. Id adalah lapisan psikis yang paling mendasar dan merupakan kawasan dimana Eros dan Thanatos berkuasa. Disitu terdapat naluri bawaan (seksual dan agresif) dan keinginan yang direpresi. Hidup psikis janin sebelum lahir dan bayi yang baru lahir terdiri dari Id saja dan Id itu menjadi bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut. Id sekali-kali tidakterpengaruh oleh kontrol pihak Ego dan prinsip realitas. Disitu prinsip kesenangan masih maha kuasa. Dalam Id tidakdikenal urutan menurut waktu; bahkan Id sama sekali tidak mengenal waktu (timeless). Hukum-hukum logika (khususnya prinsip kontradiksi) tidakberlaku bagi Id, tetapi sudah ada struktur tertentu, berkat pertentangan antara dua macam naluri, naluri-naluri kehidupan dan naluri-naluri kematian.
Menurut Freud Ego terbentuk dengan diferensiasi dari Id karena kontaknya dengan dunia luar, khususnya orang disekitar bayi kecil seperti orangtua, pengasuh, dan kakak adik. Aktifitasnya bersifat sadar, prasadar maupun tak sadar. Untuk sebagian besar Ego bersifat sadar dan sebagai contoh aktivitas sadar boleh disebut; persepsi lahiriah, persepsi batin, proses-proses intelektual. Sebagai contoh tentang aktivitas prasadar dapat dikemukakan fungsi ingatan. Dan aktivitas tak sadar Ego dijalankan dengan mekanisme-mekanisme pertahanan (defence mecanism). Ego seluruhnya dikuasai oleh prinsip realitas, seperti tampak dalam pemikiran yang objektif, yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan sosial, yang rasional dan mengungkapkan diri melalui bahasa. Ego juga mengontrol apa yang mau masuk ke kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. Akhirnya, Ego menjamin kesatuan kepribadian, dengan kata lain berfungsi mengadakan sintesis.
Instansi yang ketiga, Superego dibentuk melalui internalisasi (internalization), artinya larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasal dari luar (para pengasuh, khususnya orangtua) diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya terpancar dari dalam. Dengan kata lain, Superego adalah buah hasil proses internalisasi, sejauh larangan-larangan dan perintah-perintah yang tadinya merupakan sesuatu yang asing bagi si subyek, akhinya dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari subyek sendiri. Superego merupakan dasar hati nurani moral. Aktivitas Superego menyatakan diri dalam konflik dengan Ego yang dirasakan dalam emosi-emosi seperti bersalah, rasa menyesal, dan lain sebagainya. Sikap-sikap seperti observasi diri, kritik diri, dan inhibisi berasal dari Superego. Menurut Freud kompleks Oidipus memainkan peranan besar dalam pembentukan Superego.
Teori baru tentang naluri-naluri dan susunan hidup psikis mempunyai konsekuensi penting dalam praktek psikoanalisis. Konflik tidak lagi dianalisis sebagai pertentangan antar naluri, tetapi sebagai pertahanan Ego terhadap dorongan-dorongan naluriah, dimana agresivitas mempunyai tempat sama penting dengan seksualitas, sehingga harus disimpulkan bahwa agresivitas punya andil sama besar seperti seksualitas dalam menyebabkan neurosis. Karena itu kiranya sudah jelas bahwa tuduhan panseksualisme (maksudnya: bahwa segala sesuatu diasalkan dari seksualitas) yang masih sering diajukan terhadap pemikiran Freud, tidaksesuai dengan kenyataan dan menunjukan bahwa orang yang bilang begitu kurang mengenal ajaran Freud secara menyeluruh.
Di dalam filsafat dan psikoanalisis, jiwa adalah bagian dari manusia yang memiliki fungsi-fungsi tertentu. Pertama, jiwa adalah pintu manusia menuju kenyataan (Zugang zur Wirklichkeit). Tanpa jiwa, tubuh tidakakan berarti apa-apa. Manusia tidakbisa terhubung dengan kenyataan di luar dirinya.
Peran kedua jiwa adalah melakukan seleksi terhadap segala bentuk pengetahuan yang masuk ke dalam kepala kita. Kenyataan itu amat rumit. Sebagai manusia, kita tidakbisa menerima semua informasi yang ada. Disinilah peran jiwa, yakni sebagai penyeleksi segala bentuk informasi yang masuk ke kepala kita, sehingga bisa diolah.
Jiwa juga bukan sesuatu yang statik. Ia kreatif dan fleksibel. Ia memungkinkan manusia melampaui masalah-masalahnya, dan juga melampaui penderitaan-penderitaannya. Ia membuat manusia tidakmenjadi budak dari kenyataan. Karena fleksibel dan kreatif, jiwa juga membantu manusia untuk menjaga kelestarian dirinya. Ia mendorong manusia untuk jatuh cinta dan berkembang biak. Pria dan wanita, menurut Ruppert, memiliki jenis jiwa yang berbeda. Namun, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mengembangkan dan menjaga keberlangsungan hidup manusia.
Jiwa memungkinkan manusia untuk memahami dunianya, berpikir, mengingat dan membentuk kesadaran dirinya. Jiwa menyeleksi sekaligus mengolah informasi yang kita tangkap dari dunia. Jiwa juga menuntun tindakan kita sehari-hari. Jiwa adalah elemen utama dalam diri manusia yang memungkinkan bagian-bagian biologisnya (organ tubuhnya) bergerak dan berkembang. Jiwa manusia memiliki tiga keadaan dasar, yakni keadaan senang, penuh tekanan dan keadaan traumatik. Ketika orang merasa senang, dunia seolah terbuka untuknya. Dia siap untuk merengkuh beragam kemungkinan yang ada. Kecemasan jauh dari hidupnya.
Ketika orang merasa tertekan, dunianya seolah tertutup. Ia selalu terjaga dan cemas. Ia tidak bisa tenang. Ia selalu waspada, andaikan nasib buruk menimpanya. Ketika orang merasa tertekan, ia menjalani hidupnya dengan berat. Ia butuh banyak sekali energi untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Tertekan adalah dampak langsung dari trauma yang terpendam. Di dalam keadaan ini, orang akan gampang lelah, walaupun hanya melakukan pekerjaan yang ringan.
Keadaan ketiga adalah keadaan trauma, yakni ketika orang mengalami peristiwa yang amat menyakitkan dirinya. Jejak peristiwa itu masih terasa, walaupun peristiwa itu sudah lama berlalu. Di dalam keadaan ini, orang akan melihat dunia secara gelap. Kenyataan menjadi begitu menyakitkan, walaupun ia hanya menjalani kegiatan sehari-hari yang biasa.
Konsep kunci bahwa manusia adalah mahkluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseling, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Bimbingan dibagi menjadi tiga yaitu:
1.      Memahami individu (understanding individu)
2.      Preventif dan pengembangan individual
3.      Membantu individu untuk menyempurnakannya
Konsep psikoanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli mengkritik, namun dalam beberapa konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pembinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik. Dalam hal ini hadis Nabi menyatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang ikut mewarnai sampai dewasa. Selain itu seorang penyair menyatakan bahwa tumbuhnya generasi muda kita seperti yang dibiasakanoleh ayah dan ibunya. Hadis dan syair tersebut diatas sejalan dengan konsep Freud tentang kepribadian manusia yang disimpulkannya sangat tergantung pada apa yang diterimanya ketika ia masih kecil. Namun tentu saja terdapat sisi-sisi yang tidakbegitu dapat diaplikasikan, karena pada hakikatnya manusia itu bersifat baharu.
            Konsep manusia manusia sendiri menurut psikoanalisa, psikoanalisa sering ditafsirkan dalam tiga batas pengertian. Pertama, sebagai suatu konsep teoritik dalam ilmu perilaku yang menjelaskan struktur dan dinamika kepribadian manusia. Kedua, suatu bentuk psikoterapi bagi gangguan jiwa. Ketiga, sebagai suatu teknik untuk menyusuri pikira-pikiran dan perasaan-perasaan tak sadar manusia. Konsep kepribadian dalam teori ini diawali dengan pendapat Sigmund Freud tentang kehidupan manusia yang dikuasai oleh alam ketIdaksadarannya (unconsciousness). Melalui studi dari pasien-pasiennya, Freud menemukan bahwa bermacam-macam kelainan tingkah laku disebabkan oleh faktor yang terdapat dalam alam ketIdaksadaran  ini. Karena itu untuk memahami gangguan perilaku dibutuhkan teknik untuk menganalisa alam ketidaksadaran ini yang digambarkan oleh Freud berada di bawah dan yang tertutup oleh alam kesadarannya konsep Id, Ego, dan Superego ini muncul berdasarkan pemahaman Freud yang mengumpamakan keadaan dan proses mental manusia itu ibarat gunung es yang mengambang di tengah laut. Bagian permukaannya yang timbul hanyalah sebagian dari apa yang dapat diobservasi tentang keadaan dalam jiwa itu, dan yang merupakan alam kesadaran. Bagian terbesar justru tidaktampak dan tenggelam dibawah permukaan, yang merupakan alam ketidaksadaran. diantara kedua alam tersebut terdapat alam prasadar. bagi freud alam ketidaksadaran inilah yang paling penting diperhatikan untuk memahami apa yang menjadi isi pikiran dan perasaan manusia yang melalui interaksi ketiga sistem dalam kepribadian manusia kemudian membentuk perilaku manusia.
            Eksplanasi Freud tentang bentuk keabnormalan perilaku yang bersumber dari kekuatan libido ini menunjukan kejelasan yang dangkal. Kekuatan dorongan tersebut telah membutakan manusia dan menjadikannya tidak berdaya untuk mengembangkan diri ke arah yang positif, tetapi mengarah kepada penyimpangan perilaku dalam upanyanya mengatasi, menahan, dan menyiasati dorongan seksual itu. Manusia dalam ketIdakberdayaannya melawan libIdonya digambarkan oleh Freud menjadi wujud mahkluk yang begitu pesimis dapat keluar dari belenggu impulsnya itu, seolah-oleh tidakada potensi, misalnya berupa akall, kata hati atau hati nurani dan keyakinan akan dukungan kekuatan supranatural berupa iman dan taqwa kepada Tuhannya, yang dapat dikembagkan oleh dirinya sendiri untuk melawan hal yang instiingtif itu. Dengan demikian manusia menjadi tidaklagi berbeda dengan mahkluk hewan yang bergerak atas instingnya saja. sebagai mahkluk yang berakal dan memiliki keyakinan agama.


Contoh Kasus
Seseorang yang mengalami depresi ketika menghadapi suatu tantangan kenyataan hidup, yang biasanya ditandai dengan perasaan murung, kehilangan gairah untuk melakukan hal-hal biasa dilakukannya dan tidak bisa mengeksorisikan kegembiraan. Biasanya terjadi pada awal sampai pertengahan dewasa. Bisa terjadi sekali, bisa terjadi sering kali. Bisa sebentar, bisa selama hidup.
Penyebab depresi sangat bermacam-macam. Faktor psikologis yang bisa menyebabkan depresi antara lain adalah adanya harapan (keinginan, cita-cita) yang tidak terpenuhi, seperti putus cinta, tidak diterima di perguruan tinggi favorit, atau masalah perkawinan yang kronis. Depresi karena sebab-sebab fisik atau medis biasanya tidak dIdiagnosis sebagai depresi, oleh karena itu, kadang-kadang dokter perlu melakukan pemeriksaan laboraturium umum untuk memastikan apakah gejala depresi itu murni ataukah karena faktor fisik-medis yang lain. Jika depresi itu murni pun tidak selalu memerlukan perawatan. Jika depresi yang berkepanjangan akan memerlukan bantuan seorang psikolog, dengan disiplin ilmu mengenai kejiwaan mampu melakukan intervensi. Dengan melakukan pendekatan keilmuan ini akan mampu mengembangkan kekuatan dan kebajikan individu terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, serta mampu menjadi orang yang berguna untuk kehidupan kedepannya.




REFERENSI
Freud, Sigmund. 2006. Psikoanalisis: Sigmund Freud. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
----  Handbook For The New Paradigm. Carson City: Bridger House Publisher, Inc.
Webel, Charles, and Galtung, Johan (2007). Handbook of Peace And Conflict Studies. Routledge: New York.
Woodhouse, Mark B. (2000). Berfilsafat Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius.